Azhar Rijal Fadlillah
8 Desember 2010
”Die Schöpfung ist niemals vollendet”.
Penciptaan tak pernah usai. Pagi bukanlah serangkaian repetisi. –Kant
I
Peradaban adalah sebuah pengertian yang sebaiknya tak kita terima begitu saja; kita perlu telaah asal-usulnya.
Akar kata ini adalah “adab”, dan kalau kita ingat ada kata “ber-adab” dalam bahasa kita, kita akan tahu bahwa ada satu nilai yang tersirat didalamnya. Lawan kata “beradab” adalah “biadab”. Yang pertama dianggap lebih baik ketimbang yang kedua. Sebagai satu contoh saja kita ambil definisi dari buku The Philosophy of Civilization (Albert Schweitzer; 1923):
“It is the sum total of all progress made by man in every sphere of action and from every point of view in so far as the progress helps towards the spiritual perfecting of individuals as the progress of all progress.”
Dengan demikian dapat diasumsikan ada satu subjek, pusat, atau otoritas, yang menilai dan menentukan apa yang bisa dianggap “progress”. Dengan kata lain, apa yang bisa diputuskan sebagai “baik” dan “tidak baik” itu.
Agaknya tidak dapat diabaikan kenyataan, “peradaban” memang mengimplikasikan adanya “pusat” dan “otoritas” itu. Kata itu sebuah terjemahan yang saya kira tepat untuk “civilization”, sebuah kata Inggris. Sepanjang yang saya ketahui, orang inggris lah yang pertama kali memperkenalkan kata itu. Tapi akar kata “civilization” datang dari bahasa latin, civilis yang berhubungan dengan civis, yang berarti warga, dan civitas, yang berarti “kota” atau “negeri”.
Will Durant –yang menulis 12 jilid buku The Story of Civilization (Will Durant dan Ariel Durant; 1935-1975), merumuskan peradaban sebagai “tata sosial”:
Civilization is social order promoting cultural creation. Four elements constitute it; economic provision, political organization, moral traditions, and the pursuit of knowledge and the arts. It begins where chaos and insecurity ends….
Dari sini tampak bahwa “peradaban” mempunyai dimensi politik; tiap tata membutuhkan kekuasaan untuk membentuk dan menopangnya. Agar dan/atau chaos berakhir, kekuasaan membutuhkan represi, bahkan kekerasan. Pada saat yang sama, peradaban –sebagai bangunan normatif tentang yang “beradab” dan yang “biadab”, merupakan wacana yang terjadi dalam latar sejarah dan tempat tertentu, yang tak jarang menawarkan diri sebagai sesuatu yang universal. Adanya selisih (yang tak terelakkan) antara klaim universalitas itu dengan bangunan normatif dalam peradaban yang ada akan membuat peradaban selamanya dibentuk oleh hegemoni, antagonisme, dan interaksi antar berbagai gejolak dalam dirinya juga yang datang dari luar. Maka membentengi diri dengan “identitas” dalam wacana tentang peradaban, akan melupakan bahwa “luar” itu juga ditentukan oleh kekuasaan yang merespon suatu keadaan suatu masa- suatu tempat.
II
Peradaban bagi pandangan “materialisme historis”, tak semata-mata dibentuk oleh para pencipta. Mereka ada bukan hanya berkat usaha orang-orang yang berbakat besar dengan gagasan besar yang menciptakan khasanah budaya itu, tapi juga karena jerih payah yang tak dikenal- para pionir.
Setiap bangunan megah selalu terbentuk oleh bongkahan batu yang terpola,
Namun kemanakah para tukang batu- segera setelah bagunan tersebut berdiri?
Tapi bukan hanya represi terhadap kerja dan hak-hak “para tukang batu” yang menyebabkan pandangan Marxis tentang peradaban pada dasarnya selalu muram, meskipun bukannya tanpa harap. Peradaban juga, yang makin menegaskan pembagian kerja dalam masyarakat, pada gilirannya mengungkung manusia dalam alienasi.
Pada Marx, alienasi adalah konsep yang juga datang dari Hegel dalam bukunya yang terkenal- Phenomenology of Spirit (G.F.W. Hegel; 1977- Terjemahan oleh A.V. Miller)
Dalam kritiknya kepada agama Kristen (yang juga dapat dikaitkan dengan agama-agama samawi lainnya; Yahudi, Islam), Hegel melihat bahwa Tuhan telah dijadikan sesuatu yang “objektif”. Adapun obyektifitas itu diperkenalkan kepada kita di “sebuah dunia yang asing bagi kita, sebuah latar dimana kita tak punya bagian, dimana kita tak akan memperoleh tempat oleh aktivitas kita, melainkan hanya dengan cara meminta-minta”. Manusia jadi impoten, pada saat yang bersamaan ketika Tuhan jadi sekadar konsep yang sudah dirumuskan (baca: Agama). Dalam keadaan seperti itu, ujar Derrida, “Tuhan meninggalkan semua sifat subyektif dan hanya semata-mata obyek.” Manusia jadi “Non-ego” dan Tuhan jadi “Non-ego yang lainnya”. Atau seperti ujar sastrawan favorit saya, Goenawan Mohamad;
“Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.”
(Caping Edisi 6 Oktober 2007; “Tentang Tuhan yang Tak Harus Ada”- GM)
Kembali ke Hegel,
Dalam satu ceramahnya Hegel menguraikan apa yang disebutnya “Kehidupan yang menggerakkan diri sendiri, meskipun sebenarnya itu kehidupan dari bentuk-bentuk yang mati”. Di dalamnya, yang semula hidup seakan-akan membeku. Ibadah jadi aturan ritual yang pola gerak mekanistiknya sangat pasti (sebegitu teraturnya hingga sulit dikatakan lagi sebagai aktivitas rohaniah), yang diisembah jadi berhala, yang ethis jadi hukum, pikiran jadi formula, kesenian jadi klise, alam jadi proyek, dan benda akrab ke dalam- dan sebab itu benda punya arti- Cuma jadi benda yang tiap saat dapat dipertukarkan dengan benda lain.
Yang terakhir ini terutama tampak dengan dipergunakannya uang; satu sarana untuk menerjemahkan semua jenis benda dan jasa pemenuh kebutuhan manusia dalam satu kriterium yang bisa dikenakan ke apa saja, bahkan siapa saja. Marx menyebutnya sebuah peralihan (sifat dekonstruktif) “nilai guna” menjadi “nilai tukar”.
Dalam kondisi seperti ini nampak semakin jelas apa yang dimaksud Hegel tentang alienasi. Pada awalnya manusia mencipta benda-benda namun akhirnya manusia teralienasi oleh benda-benda. Maka semakin jelas bahwa sejatinya peradaban menghadapi musuhnya dari dalam dirinya sendiri.
Peradaban dengan demikian bukan sebuah perkembangan ke arah kemajuan yang linear. Ia terkadang berbalik mundur- terus berdialektis. Musuhnya pun ada di dalam peradaban itu sendiri. Yang menjadi kekuatan yang mengkonstruksi peradaban sekaligus musuh sejatinya. Terkadang musuh itu tampil dengan sosok yang mulia dan memikat- yang bisa menjerat manusia dalam alienasi yang digambarkan Hegel; Ketika manusia menyerah kepada adat, hukum, ekonomi, politik dan agama tanpa subyektifitas.
Jangan-jangan kita tertipu (lagi) oleh waham, mencari sosok ideal peradaban yang ditopang kepastian. Maka barangkali benar apa yang dikatakan Kant;
“Penciptaan tak pernah usai. Pagi bukanlah serangkaian repetisi.”
Terimakasih,
Semoga Bach memberkati….